Saturday, March 13, 2010

Tarian Anapena di Padang Savana


-Sajak Dialogis Kris Bheda Shomepers dan Alexander Aur untuk Nicholas Angin Padang Savana dan Anapena

tidur savana membangunkanku
akan kunarikan anapenaku

anapena menari di pelataran padang savana
angin mendesau di pucuk eukaliptus
tarian anapena kian menggairahkan

meleleh tinta hijau
jadi sajak di padang savana
jadi pijak pada waktu yang akan lalu
jadi tonggak sejarah
savana jadi jejak

jejak anapena jadi prasasti
melumat waktu merangkai ruang
menyusur ruang-ruang padat kata sarat makna
dendang riang bunga padang savana
saat jemarinya menyulam kata

jadi kata bernyawa
inkarnasi syair
seperti kristus sudah menjadi daging
syair itu pun bertubuh
bangun ketika malam tidur tafakur
merenung ketika siang beringas panas
antara salib dan pembebasan
penanya merentang dari timur ke barat
dari lahir menuju kematian

kematian ada menjadi hidup
adanya ada hidup abadi menyetubuhi padang savana
dalam gelora gairah angin
mereka yang mengunyah syair bertubuh dari anapena
menari-nari di puncak bebukitan
menebar tawa pada setiap ceruk semesta

-syair ini ditulis bersama lewat chating di wall FB 26-2-10-

Belalang Busung Lapar


- kepada orang-orang yang busung lapar


dua sukma
bercerita pada sebongkah loh batu
tentang lara belalang busung lapar

ceritalah
pada loh-loh batu
dengan warna-warni tintamu
jangan biarkan penamu
tersumbat oleh penat pekat belalang busung lapar

loh-loh batu sejarah
angin takkan menggerus
terik padang takkan menghanguskan
savana takkan merimbuni

warna-warni tinta penamu
menapak pada loh-loh batu
ingatkan dua sukma
para cerita sebongkah loh batu
tentang ingatan sejarah
belalang busung lapar


Bus Mayasari Jurusan Cawang Jakarta Timur-Cikarang Bekasi Jawa Barat
06 Maret 2010

Sekelebat Harapan dalam Uap Kopi

- kepada petani kopi

kutahu
kau mengetuk penamu
lewat uap kopi dari gelas kopi di sampingku
lalu sekelebat harapan berkelindan dalam uap kopi
di tengah malam ini

angin yang tengah berkata-kata lewat ventilasi huma mungil ini
sontak mengajak penamu
menyulam kata-kata
dan bernyanyi tentang
sekelebat harapan dalam uap kopi

mendadak sunyi
mabuk
bukan oleh cafein kopi dalam cangkir
tetapi oleh sekelebat harapan
yang berkelindan dalam uap kopi
yang akan disulam angin dan pena
di ladang-ladang kopi

harapan itu meleleh
dari gayo
mengalir ke sidikalang
lalu ke lampung
terus ke rawaseneng
naik ke toraja
turun ke flores
merembes ke gubuk-gubuk petani kopi
menggenangi sukma gersang petani kopi

sekelebat harapan dalam uap kopi
menampar muka importir kopi!
tenggelamkan kontainer-kontainer kopi dari asia tengah
ke palung-palung laut terdalam!

sekelebat harapan dalam uang kopi
bersumpah serapah!
kau serakah!
kau rakus!
penindas!
pencuri!

sekelebat harapan dalam uap kopi
merangsek ke dalam selang-selang besi pabrik kopi instan
memisahkan kopi dari jagung
menceraikan bubuk kopi yang dipaksa kawin dengan bubuk jagung gosong
menendang keluar pengawet kimia buatan pabrik
lalu memendamkannya dalam lumpur oli kotor mesin pabrik kopi instan
pergi kau pengkhianat!
jangan kau nodai kelezatan kopi murni!
jangan kau kangkangi ibu-ibu petani kopi
yang saban pagi mendendangkan lagu nikmat kopi murni untuk suaminya!

sekelebat harapan dalam uap kopi
merangkul penikmat kopi
yang tengah keracunan kopi instan bercampur bubuk jagung
dan pengawet kimia buatan pabrik

“mari kawan....
kita menyeduh kebahagiaan untuk petani-petani kopi
dalam cangkir-cangkir kopi murni
pilihlah....
pilihlah kawan...
arabika sidikalang....
arabika gayo....
arabika toraja....
arabika flores....
robusta lampung....
robusta rawaseneng....
tai luwak sidikalang....
pilihlah...
pilihlah kawan....
semua asli dari tanah indonesia
asli dari anus luwak yang menari di dahan-dahan rimba
asli buah tarian tangan ibu-ibu petani kopi
pada lesung-lesung kayu

sekelebat harapan dalam uap kopi
bermain-main dengan anak-anak petani kopi
di ladang-ladang kopi
semat-menyemat bunga kopi pada telinga
saat itu
cangkir-cangkir kopi murni
meleleh
merembes
ke segala ceruk dan lekuk semesta
seraya mengapungkan
angin dan pena
yang terus menyulam kata-kata
tentang
sekelebat harapan dalam uap kopi


Desa Sukaragam Cikarang Selatan Bekasi Maret 2010
Saat menikmati secangkir kopi Javaro di tengah malam senyap

Capung-capung yang Lupa Pulang


malam menera petang
yang lewat dengan dendang
jarum-jarum air menikam debu

lukisan cintamu
menari di lekuk sunyi
beringas telah mencair
merembes ke langit malam

kita memeluk telanjang
saat embun minta disetubuhi
capung yang lupa pulang ke sarang
menabrak malam
kita
capung-capung yang lupa pulang

di sarang capung
belia-belia hijau
menunggu cipak
embun yang minta disetubuhi
menunggu
menanti
merindu
kita
capung-capung yang lupa pulang

pulang karena cinta
pergi karena kerja
pulang
pulanglah...
kita
capung-capung yang lupa pulang


Bis Mayasari Jurusan Poris Banten-Pulogadung Jakarta Timur
Sabtu 06 Maret 2010

Pintu Huma Masa Depan

- kepada almarhum Pastor Aniceto Morini SX

kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bercerita tentang huma masa depan
lewat kepul-kepul asap rokok yang berdesakkan keluar
dari rongga mulut malaikatmu

kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bercerita tentang Dia yang disalibkan
lewat cetak cetik jari jemarimu pada mesin ketik tua
yang bernyanyi di tengah sunyi huma novisiat

kepada kami
anak anak ingusan
engkau tunjukkan kesahajaan
lewat tulang berbalut kulit tubuhmu

kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bertutur tentang ranah minang yang subur
yang selalu menumbuhkan sabda-sabda Dia yang disalibkan
kesantunan anak-anak minang menggairahkanmu
kesalehan lelaki minang memikatmu
kejelitaan perempuan minang menyapamu
lembah ngarai minang menjemputmu
debur ombak teluk bayur menyihirmu
rimba raya minang menggandengmu
pantun bijak orang minang menggetarkanmu
saat engkau mengisahkan Dia yang disalibkan
di ranah minang
pintu huma masa depan sudah kau buka

kepada kami
anak anak ingusan
engkau ujarkan
”aku makin percaya dan beriman
Dia yang disalibkan sudah lahir di ranah minang
sebelum kakiku menjejak di negeri pagaruyung”

kepada kami
anak anak ingusan
engkau bersumpah
”sekali jejakku tertanam di ranah pagaruyung
tak setengah langkahpun mundur ke roma!
sekali menenggak air indonesia
tak setetespun anggur italia memabukkanku!
sekali minang selalu di kalbuku!
sekali indonesia abadi di jiwaku!
sekali cinta indonesia terlukis setia di tubuhku!
cintaku pada minang
membakarku!
cintaku pada indonesia
menghanguskanku!”

kepada kami
anak anak ingusan
engkau ajarkan ketulusan
lewat koma yang memasungmu tahun demi tahun
tahun tahun deritamu yang sepi lamentasi
adalah tahun tahun pengabdian yang terakhir pada dunia dan Dia

kemarin
di tengah hening huma novisiat
engkau pamit dengan kami
anak anak ingusan
engkau masuk dalam halaman huma masa depan
yang pintunya gerbangnya
sudah engkau buka puluhan tahun silam

engkau berkata dalam senyap
”aku menantimu anak anakku yang masih ingusan
di gerbang huma masa depan
kelak, di halaman huma masa depan aku akan mendengar cerita kalian
tentang kehidupan di luar huma masa depan”


Bintaro Banten-Cikarang Jawa Barat
11-12 Maret 2010
saat mengenang teladan hidup Pastor Aniceto Morini SX

Hutan Hujan Tropis


pernahkah engkau baca
kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu
tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun?

pernahkah engkau lihat
gurat erotik pena seorang anak pada helai helai jamur kuping
tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam?

pernahkah engkau dengar
lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?

jika
engkau tak pernah baca
jika
engkau tak pernah lihat
jika
engkau tak pernah dengar
tentang
semua itu

maka
itu tanda bahwa engkau sedang berjalan
menuju padang pasir
itu tanda bahwa engkau sedang pergi
menuju gurun yang terik
itu tanda bahwa engkau sedang melenggang
meninggalkan hutan hujan tropis

sebelum engkau berjalan
duduklah sejenak di sini
bacalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
sebelum engkau pergi
pandanglah sejenak
gurat erotik seorang anak tentang angin yang tengah disundut syahwat yang ingin mencumbu bunga anggrek hitam
sebelum engkau melenggang
dengarlah sejenak lagu sendu seorang anak ketika penanya macet tatkala menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
sebelum engkau melenggang
rasakahlah sejenak
bau hutan hujan tropis yang lebih harum dari bau parfum apapun

kalaupun engkau tetap mau pergi
bawalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
selipkan pada rambutmu gurat erotik seorang anak tentang angin yang disundut syahwat
dalam perjalananmu
dendangkanlah lagu sendu seorang anak tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
di kala penat
segarkan dirimu dengan bau hutan hujan tropis

semoga suatu saat nanti
engkau sadar
bahwa hutan hujan tropis
adalah jantung yang selalu memompa kehidupan untuk semesta


Desa Sukaragam Cikarang Selatan
12 Maret 2010, saat malam di beranda senja

Friday, February 1, 2008

Tindakan Kenabian Intelektual Religius di Era Otda





KEBERADAAN intelektual ditantang dalam era otonomi daerah. Kapasitas keilmuan dan kredibilitas personal para intelektual dipertanyakan berhadapan dengan fakta-fakta ini: demokratisasi masyarakat sipil yang mulai menggeliat, perilaku koruptif aparat pemerintah daerah (kabupaten dan provinsi) semakin menjadi-jadi, perselingkuhan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) dengan aparat pemerintah dalam pemburuan rente negara, dan birokrat (aparat pemerintah) bermental malas. Di mana posisi para intelektual?

Orang yang disebut intelektual adalah sosok yang mempunyai kemampuan dan profesional dalam bidang tertentu. Pada umumnya kaum intelektual memiliki latar belakang pendidikan formal yang sangat memadai. Mereka ahli dalam bidang yang ditekuni selama menjalani pendidikan formal. Keahlian itu dilanjutkan selama bekerja. Kaum intelektual – meminjam kategori Karl Marx – termasuk suprastruktur. Artinya, ia termasuk kelas atas karena kapasitas keilmuannya.

Dari perspektif tersebut, para intelektual terbagi dalam empat golongan. Pertama, intelektual akademis. Tugas pokok mereka adalah mengajar dan melakukan penelitian berkaitan dengan bidang keilmuannya. Tempat mereka adalah di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti universitas, institute, sekolah tinggi, akademi. Para guru dapat dikategorikan juga sebagia intelektual akademis. Tempat mereka adalah sekolah baik dari taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah atas (SMA).

Kedua intelektual birokrat. Mereka adalah para birokrat (aparat pemerintah) yang dipercayakan sebagai pelaksana semua kebijakan pemerintah. Mereka menduduki jabatan-jabatan dan staf dalam bidang tertentu di berbagai kantor dinas pemerintah.

Ketiga intelektual lintas batas. Mereka aktif dalam berbagai organisasi non profit atau lembaga kajian independent. Sebagian dari intelektual golongan ini bekerja seperti intelektual akademis. Sebagian lagi berkerja untuk masyarakat melalui non government organization (NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Keempat intelektual religius. Mereka adalah para klerus, pendeta, dan para pemuka agama-agama lain. Mereka bekerja berdasarkan kapasitasnya dalam bidang keagamaan. Cara berpikir dan bertindak mereka selalu berpijak pada konsep teologi yang dipahami dan dihayati.

Tulisan singkat ini hendak menyoroti peran kenabian intelektual religius di era otonomi daerah. Secara khusus, peran klerus (uskup, pastor, dan diakon) dalam realitas masyarakat di era otonomi daerah. Sorotan ini akan dimulai dengan ulasan singkat tiga aspek penting dalam diri klerus yang sekaligus intelektual religius. Aspek-aspek yang dimaksud adalah imam, nabi, dan raja. Sebagai imam, tugas klerus adalah menguduskan dunia (manusia dan alam) lewat ritual-ritual dan peristiwa sakramental yang dirayakan bersama umat. Mereka memiliki otoritas spiritual dan teologis (imamat khusus yang diterima karena rahmat tahbisan) untuk merayakan dan menerimakan sakramen-sakramen. Karenanya mereka bertugas menguduskan dunia ini. Sebagai raja, para klerus karena tahbisannya menerima tugas untuk membimbing dan memimpin umat. Gaya kepemimpinan yang dikedepankan adalah melayani secara bijaksana. Dua aspek ini sudah sering dilakukan bahkan menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah.

Aspek ketiga adalah nabi. Sebagai nabi, para klerus hadir di tengah-tengah dunia untuk memperjuangkan kondisi hidup yang lebih baik dalam segala bidang kehidupan baik yang berkenaan dengan manusia maupun alam (linkungan hidup). Mereka dipanggil untuk mewujudkan kenabiannya dalam bentuk suara dan tindakan.

Wajah otda dan tindakan kenabian
Otonomi daerah yang digulirkan pasca kekuasaan Soeharto, menghadirkan wajah baru peta politik dan kekuasaan di Indonesia. Tentunya banyak hal positif yang bisa dipetik setelah otonomi daerah diberlakukan. Warga negara (rakyat) lebih leluasa berpartisipasi di ruang-ruang publik dalam berbagai bidang, pemerintah daerah lebih leluasa mengelola keuangan daerah, lebih leluasa membangun daerah sesuai konteks sosio kultural dan agama daerahnya.

Tetapi bersamaan dengan itu, otonomi daerah juga menhadirkan wajah bopeng daerah. Praktik-praktik korupsi justru lebih marak terjadi di berbagai daerah. Praktik korupsi ini seiring dengan kewenangan daerah dalam mengelola keuangan negara sebagaimana di atur dalam Undang-undang Otonomi Daerah. Selain itu, gubernur dan bupati berperilaku seperti raja-raja feodal ketika menerapkan kebijakan-kebijakan public, DPRD hanyalah macan ompong dan pikun yang tidak lagi memperjuangkan kepentingan konstituen yang memilihnya. Masih terlalu banyak wajah bopeng daerah di era otonomi daerah.

Berhadapan dengan kondisi bopeng wajah daerah yang menampilkan masyarakat sebagai korban, peran intelektual religius (para klerus) ditantang. Selama ini suara kenabian atau seruan moral para klerus laksana kentut. Bunyinya terdengar dan baunya tercium. Tetapi dalam sekejab hilang ditelan udara. Suara kenabian para intelektual religius (klerus) membuat telinga para pelaku ketidakadilan merah dan panas, tetapi dalam sekejab kembali normal.

Dalam kondisi suara kenabian bak kentut inilah, diperlukan tindakan kenabian para intelektual religius (klerus). Prinsip dasar yang dijadikan pijakan intelektual religius dalam tindakan kenabian adalah mewujudkan Kerajaan Allah di dunia, yang ditandai dengan hak-hak, kebebasan, partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan terlaksana secara luas.

Tindakan kenabian terjadi dalam ruang publik. Hannah Arendt dalam buku Human Conditions (1959) mengatakan sebuah tindakan yang dilakukan di ruang publik merupakan tindakan politis, yang melibatkan kebebasan dan pluralitas. Pemikiran Arendt itu menjadi inspirasi untuk mengatakan bahwa tindakan kenabian merupakan tindakan tindakan politis. Tindakan kenabian yang dilakukan intelektual religius, mewujud dalam upaya pemenuhan hak-hak dan kepentingan-kepentingan publik (masyarakat umum). Melalui tindakan kenabian intelektual religius mengartikulasikan aspek-aspek privat dari masyarakat umum (seperti hak untuk makan berarti hak atas ketersediaan pangan, hak untuk sehat berarti hak atas jaminan kesehatan, hak untuk tidur dengan nyaman berarti hak atas pemukiman sehat, dsb.). Berbagai aspek itu diperjuangkan oleh para intelektual religius melalui tindakan kenabian yang dilakukannya secara bebas bukan untuk pretensi politik privat (pribadi) melainkan demi kepentingan umum.


Kebijakan publik
Para intelektual religius, khususnya di NTT secara umum dan di Flores-Lembata secara khusus, bisa belajar dari kasus Lembata. DPRD Lembata menyetujui Rekomendasi Bupati Lembata tentang Pertambangan di Lembata. Persetujuan DPRD memang sudah jelas sejak awal. Argumentasi penolakan oleh para wakil rakyat itu sebelum rekomendasi dikeluarkan hanyalah wujud dari sikap setali tiga uang antara Pemkab Lembata dan DPRD.

Persetujuan atas rekomendasi Pemkab Lembata, menunjukkan bahwa proses pembuatan kebijakan-kebijakan publik di era otonomi daerah (khususnya di Lembata), masih belum melibatkan masyarakat secara langsung dan sekaligus mencederai kepercayaan masyarakat yang sudah didapukkan kepada para wakilnya. Kondisi inilah celah lebar sekaligus lokus yang luas bagi para intelektual religius untuk melakukan tindakan kenabian.

Wujud konkrit tindakan kenabian intelektual religius adalah terlibat secara serius dalam pembuatan kebijakan-kebijakan publik, mulai dari perencanaan, pengujian materi, perbaikan materi, pengesahan kebijakan, pelaksanaan, pengawasan pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan publik. Keterlibatan ini niscaya karena para intelektual religius mempunyai kapasitas keilmuan yang sangat memadai. Dengan kapasitas keilmuannya, intelektual religius menyusun draf kebijakan publik, melakukan analisis rasional, logis, dan bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan publik (bdk. Julian Benda, Pengkhianatan Kaum Intelektual, 1927).

Tindakan kenabian para intelektual religius (klerus) dalam ruang publik bersama dan untuk kepentingan masyarakat, terutama yang menjadi korban, merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari proses dan tujuan demokrasi. Hal ini tidak bisa diabaikan karena para intelektual religius dan masyarakat merupakan warga sekaligus subjek komunitas politik (negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dusun, RT/RW) itu sendiri.

Tentang komunitas politik ini, David Held dalam Models of Democracy (1987), sebagaimana dikutip Asep Fajar Kurniawan dalam “Partisipasi Publik dan Kebijakan Daerah” (JICA & CSIS 2007) mengatakan, “Dasar pembenaran bagi adanya demokrasi yang berarti pemerintahan oleh warga adalah penentuan-penentuan keputusan publik oleh anggota-anggota komunitas politik yang bebas dan sama kedudukannya.” (hal. 82). Mewujudkan tindakan kenabian berarti bertindak politis melalui penentuan-penentuan keputusan publik. Dalam keputusan-keputusan publik, semua warga komunitas politik adalah subjek mempunyai kedudukan dan kebebasan yang sama. Karenanya subjek tidak bisa diabaikan.

Sudah saatnya, intelektual religius (klerus) bertindak secara politis karena hidup ini sesungguhnya politis. Hidup ini politis karena bertautan erat dengan ruang publik, pluralitas (orang lain) dan kebebasan.

Pernah dimuat di Tabloid FLORES POS Jakarta, 23-30 Januari 2008