- kepada almarhum Pastor Aniceto Morini SX
kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bercerita tentang huma masa depan
lewat kepul-kepul asap rokok yang berdesakkan keluar
dari rongga mulut malaikatmu
kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bercerita tentang Dia yang disalibkan
lewat cetak cetik jari jemarimu pada mesin ketik tua
yang bernyanyi di tengah sunyi huma novisiat
kepada kami
anak anak ingusan
engkau tunjukkan kesahajaan
lewat tulang berbalut kulit tubuhmu
kepada kami
anak anak ingusan
engkau selalu bertutur tentang ranah minang yang subur
yang selalu menumbuhkan sabda-sabda Dia yang disalibkan
kesantunan anak-anak minang menggairahkanmu
kesalehan lelaki minang memikatmu
kejelitaan perempuan minang menyapamu
lembah ngarai minang menjemputmu
debur ombak teluk bayur menyihirmu
rimba raya minang menggandengmu
pantun bijak orang minang menggetarkanmu
saat engkau mengisahkan Dia yang disalibkan
di ranah minang
pintu huma masa depan sudah kau buka
kepada kami
anak anak ingusan
engkau ujarkan
”aku makin percaya dan beriman
Dia yang disalibkan sudah lahir di ranah minang
sebelum kakiku menjejak di negeri pagaruyung”
kepada kami
anak anak ingusan
engkau bersumpah
”sekali jejakku tertanam di ranah pagaruyung
tak setengah langkahpun mundur ke roma!
sekali menenggak air indonesia
tak setetespun anggur italia memabukkanku!
sekali minang selalu di kalbuku!
sekali indonesia abadi di jiwaku!
sekali cinta indonesia terlukis setia di tubuhku!
cintaku pada minang
membakarku!
cintaku pada indonesia
menghanguskanku!”
kepada kami
anak anak ingusan
engkau ajarkan ketulusan
lewat koma yang memasungmu tahun demi tahun
tahun tahun deritamu yang sepi lamentasi
adalah tahun tahun pengabdian yang terakhir pada dunia dan Dia
kemarin
di tengah hening huma novisiat
engkau pamit dengan kami
anak anak ingusan
engkau masuk dalam halaman huma masa depan
yang pintunya gerbangnya
sudah engkau buka puluhan tahun silam
engkau berkata dalam senyap
”aku menantimu anak anakku yang masih ingusan
di gerbang huma masa depan
kelak, di halaman huma masa depan aku akan mendengar cerita kalian
tentang kehidupan di luar huma masa depan”
Bintaro Banten-Cikarang Jawa Barat
11-12 Maret 2010
saat mengenang teladan hidup Pastor Aniceto Morini SX
Saturday, March 13, 2010
Hutan Hujan Tropis

pernahkah engkau baca
kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu
tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun?
pernahkah engkau lihat
gurat erotik pena seorang anak pada helai helai jamur kuping
tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam?
pernahkah engkau dengar
lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?
jika
engkau tak pernah baca
jika
engkau tak pernah lihat
jika
engkau tak pernah dengar
tentang
semua itu
maka
itu tanda bahwa engkau sedang berjalan
menuju padang pasir
itu tanda bahwa engkau sedang pergi
menuju gurun yang terik
itu tanda bahwa engkau sedang melenggang
meninggalkan hutan hujan tropis
sebelum engkau berjalan
duduklah sejenak di sini
bacalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
sebelum engkau pergi
pandanglah sejenak
gurat erotik seorang anak tentang angin yang tengah disundut syahwat yang ingin mencumbu bunga anggrek hitam
sebelum engkau melenggang
dengarlah sejenak lagu sendu seorang anak ketika penanya macet tatkala menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
sebelum engkau melenggang
rasakahlah sejenak
bau hutan hujan tropis yang lebih harum dari bau parfum apapun
kalaupun engkau tetap mau pergi
bawalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
selipkan pada rambutmu gurat erotik seorang anak tentang angin yang disundut syahwat
dalam perjalananmu
dendangkanlah lagu sendu seorang anak tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
di kala penat
segarkan dirimu dengan bau hutan hujan tropis
semoga suatu saat nanti
engkau sadar
bahwa hutan hujan tropis
adalah jantung yang selalu memompa kehidupan untuk semesta
Desa Sukaragam Cikarang Selatan
12 Maret 2010, saat malam di beranda senja
kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu
tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun?
pernahkah engkau lihat
gurat erotik pena seorang anak pada helai helai jamur kuping
tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam?
pernahkah engkau dengar
lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?
jika
engkau tak pernah baca
jika
engkau tak pernah lihat
jika
engkau tak pernah dengar
tentang
semua itu
maka
itu tanda bahwa engkau sedang berjalan
menuju padang pasir
itu tanda bahwa engkau sedang pergi
menuju gurun yang terik
itu tanda bahwa engkau sedang melenggang
meninggalkan hutan hujan tropis
sebelum engkau berjalan
duduklah sejenak di sini
bacalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
sebelum engkau pergi
pandanglah sejenak
gurat erotik seorang anak tentang angin yang tengah disundut syahwat yang ingin mencumbu bunga anggrek hitam
sebelum engkau melenggang
dengarlah sejenak lagu sendu seorang anak ketika penanya macet tatkala menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
sebelum engkau melenggang
rasakahlah sejenak
bau hutan hujan tropis yang lebih harum dari bau parfum apapun
kalaupun engkau tetap mau pergi
bawalah kisah seorang anak tentang desah angin yang mencumbu daun-daun
selipkan pada rambutmu gurat erotik seorang anak tentang angin yang disundut syahwat
dalam perjalananmu
dendangkanlah lagu sendu seorang anak tentang kesedihan seekor nuri yang masuk angin
di kala penat
segarkan dirimu dengan bau hutan hujan tropis
semoga suatu saat nanti
engkau sadar
bahwa hutan hujan tropis
adalah jantung yang selalu memompa kehidupan untuk semesta
Desa Sukaragam Cikarang Selatan
12 Maret 2010, saat malam di beranda senja
Friday, February 1, 2008
Tindakan Kenabian Intelektual Religius di Era Otda
KEBERADAAN intelektual ditantang dalam era otonomi daerah. Kapasitas keilmuan dan kredibilitas personal para intelektual dipertanyakan berhadapan dengan fakta-fakta ini: demokratisasi masyarakat sipil yang mulai menggeliat, perilaku koruptif aparat pemerintah daerah (kabupaten dan provinsi) semakin menjadi-jadi, perselingkuhan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) dengan aparat pemerintah dalam pemburuan rente negara, dan birokrat (aparat pemerintah) bermental malas. Di mana posisi para intelektual?
Orang yang disebut intelektual adalah sosok yang mempunyai kemampuan dan profesional dalam bidang tertentu. Pada umumnya kaum intelektual memiliki latar belakang pendidikan formal yang sangat memadai. Mereka ahli dalam bidang yang ditekuni selama menjalani pendidikan formal. Keahlian itu dilanjutkan selama bekerja. Kaum intelektual – meminjam kategori Karl Marx – termasuk suprastruktur. Artinya, ia termasuk kelas atas karena kapasitas keilmuannya.
Dari perspektif tersebut, para intelektual terbagi dalam empat golongan. Pertama, intelektual akademis. Tugas pokok mereka adalah mengajar dan melakukan penelitian berkaitan dengan bidang keilmuannya. Tempat mereka adalah di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti universitas, institute, sekolah tinggi, akademi. Para guru dapat dikategorikan juga sebagia intelektual akademis. Tempat mereka adalah sekolah baik dari taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah atas (SMA).
Kedua intelektual birokrat. Mereka adalah para birokrat (aparat pemerintah) yang dipercayakan sebagai pelaksana semua kebijakan pemerintah. Mereka menduduki jabatan-jabatan dan staf dalam bidang tertentu di berbagai kantor dinas pemerintah.
Ketiga intelektual lintas batas. Mereka aktif dalam berbagai organisasi non profit atau lembaga kajian independent. Sebagian dari intelektual golongan ini bekerja seperti intelektual akademis. Sebagian lagi berkerja untuk masyarakat melalui non government organization (NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Keempat intelektual religius. Mereka adalah para klerus, pendeta, dan para pemuka agama-agama lain. Mereka bekerja berdasarkan kapasitasnya dalam bidang keagamaan. Cara berpikir dan bertindak mereka selalu berpijak pada konsep teologi yang dipahami dan dihayati.
Tulisan singkat ini hendak menyoroti peran kenabian intelektual religius di era otonomi daerah. Secara khusus, peran klerus (uskup, pastor, dan diakon) dalam realitas masyarakat di era otonomi daerah. Sorotan ini akan dimulai dengan ulasan singkat tiga aspek penting dalam diri klerus yang sekaligus intelektual religius. Aspek-aspek yang dimaksud adalah imam, nabi, dan raja. Sebagai imam, tugas klerus adalah menguduskan dunia (manusia dan alam) lewat ritual-ritual dan peristiwa sakramental yang dirayakan bersama umat. Mereka memiliki otoritas spiritual dan teologis (imamat khusus yang diterima karena rahmat tahbisan) untuk merayakan dan menerimakan sakramen-sakramen. Karenanya mereka bertugas menguduskan dunia ini. Sebagai raja, para klerus karena tahbisannya menerima tugas untuk membimbing dan memimpin umat. Gaya kepemimpinan yang dikedepankan adalah melayani secara bijaksana. Dua aspek ini sudah sering dilakukan bahkan menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah.
Aspek ketiga adalah nabi. Sebagai nabi, para klerus hadir di tengah-tengah dunia untuk memperjuangkan kondisi hidup yang lebih baik dalam segala bidang kehidupan baik yang berkenaan dengan manusia maupun alam (linkungan hidup). Mereka dipanggil untuk mewujudkan kenabiannya dalam bentuk suara dan tindakan.
Wajah otda dan tindakan kenabian
Otonomi daerah yang digulirkan pasca kekuasaan Soeharto, menghadirkan wajah baru peta politik dan kekuasaan di Indonesia. Tentunya banyak hal positif yang bisa dipetik setelah otonomi daerah diberlakukan. Warga negara (rakyat) lebih leluasa berpartisipasi di ruang-ruang publik dalam berbagai bidang, pemerintah daerah lebih leluasa mengelola keuangan daerah, lebih leluasa membangun daerah sesuai konteks sosio kultural dan agama daerahnya.
Tetapi bersamaan dengan itu, otonomi daerah juga menhadirkan wajah bopeng daerah. Praktik-praktik korupsi justru lebih marak terjadi di berbagai daerah. Praktik korupsi ini seiring dengan kewenangan daerah dalam mengelola keuangan negara sebagaimana di atur dalam Undang-undang Otonomi Daerah. Selain itu, gubernur dan bupati berperilaku seperti raja-raja feodal ketika menerapkan kebijakan-kebijakan public, DPRD hanyalah macan ompong dan pikun yang tidak lagi memperjuangkan kepentingan konstituen yang memilihnya. Masih terlalu banyak wajah bopeng daerah di era otonomi daerah.
Berhadapan dengan kondisi bopeng wajah daerah yang menampilkan masyarakat sebagai korban, peran intelektual religius (para klerus) ditantang. Selama ini suara kenabian atau seruan moral para klerus laksana kentut. Bunyinya terdengar dan baunya tercium. Tetapi dalam sekejab hilang ditelan udara. Suara kenabian para intelektual religius (klerus) membuat telinga para pelaku ketidakadilan merah dan panas, tetapi dalam sekejab kembali normal.
Dalam kondisi suara kenabian bak kentut inilah, diperlukan tindakan kenabian para intelektual religius (klerus). Prinsip dasar yang dijadikan pijakan intelektual religius dalam tindakan kenabian adalah mewujudkan Kerajaan Allah di dunia, yang ditandai dengan hak-hak, kebebasan, partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan terlaksana secara luas.
Tindakan kenabian terjadi dalam ruang publik. Hannah Arendt dalam buku Human Conditions (1959) mengatakan sebuah tindakan yang dilakukan di ruang publik merupakan tindakan politis, yang melibatkan kebebasan dan pluralitas. Pemikiran Arendt itu menjadi inspirasi untuk mengatakan bahwa tindakan kenabian merupakan tindakan tindakan politis. Tindakan kenabian yang dilakukan intelektual religius, mewujud dalam upaya pemenuhan hak-hak dan kepentingan-kepentingan publik (masyarakat umum). Melalui tindakan kenabian intelektual religius mengartikulasikan aspek-aspek privat dari masyarakat umum (seperti hak untuk makan berarti hak atas ketersediaan pangan, hak untuk sehat berarti hak atas jaminan kesehatan, hak untuk tidur dengan nyaman berarti hak atas pemukiman sehat, dsb.). Berbagai aspek itu diperjuangkan oleh para intelektual religius melalui tindakan kenabian yang dilakukannya secara bebas bukan untuk pretensi politik privat (pribadi) melainkan demi kepentingan umum.
Kebijakan publik
Para intelektual religius, khususnya di NTT secara umum dan di Flores-Lembata secara khusus, bisa belajar dari kasus Lembata. DPRD Lembata menyetujui Rekomendasi Bupati Lembata tentang Pertambangan di Lembata. Persetujuan DPRD memang sudah jelas sejak awal. Argumentasi penolakan oleh para wakil rakyat itu sebelum rekomendasi dikeluarkan hanyalah wujud dari sikap setali tiga uang antara Pemkab Lembata dan DPRD.
Persetujuan atas rekomendasi Pemkab Lembata, menunjukkan bahwa proses pembuatan kebijakan-kebijakan publik di era otonomi daerah (khususnya di Lembata), masih belum melibatkan masyarakat secara langsung dan sekaligus mencederai kepercayaan masyarakat yang sudah didapukkan kepada para wakilnya. Kondisi inilah celah lebar sekaligus lokus yang luas bagi para intelektual religius untuk melakukan tindakan kenabian.
Wujud konkrit tindakan kenabian intelektual religius adalah terlibat secara serius dalam pembuatan kebijakan-kebijakan publik, mulai dari perencanaan, pengujian materi, perbaikan materi, pengesahan kebijakan, pelaksanaan, pengawasan pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan publik. Keterlibatan ini niscaya karena para intelektual religius mempunyai kapasitas keilmuan yang sangat memadai. Dengan kapasitas keilmuannya, intelektual religius menyusun draf kebijakan publik, melakukan analisis rasional, logis, dan bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan publik (bdk. Julian Benda, Pengkhianatan Kaum Intelektual, 1927).
Tindakan kenabian para intelektual religius (klerus) dalam ruang publik bersama dan untuk kepentingan masyarakat, terutama yang menjadi korban, merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari proses dan tujuan demokrasi. Hal ini tidak bisa diabaikan karena para intelektual religius dan masyarakat merupakan warga sekaligus subjek komunitas politik (negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dusun, RT/RW) itu sendiri.
Tentang komunitas politik ini, David Held dalam Models of Democracy (1987), sebagaimana dikutip Asep Fajar Kurniawan dalam “Partisipasi Publik dan Kebijakan Daerah” (JICA & CSIS 2007) mengatakan, “Dasar pembenaran bagi adanya demokrasi yang berarti pemerintahan oleh warga adalah penentuan-penentuan keputusan publik oleh anggota-anggota komunitas politik yang bebas dan sama kedudukannya.” (hal. 82). Mewujudkan tindakan kenabian berarti bertindak politis melalui penentuan-penentuan keputusan publik. Dalam keputusan-keputusan publik, semua warga komunitas politik adalah subjek mempunyai kedudukan dan kebebasan yang sama. Karenanya subjek tidak bisa diabaikan.
Sudah saatnya, intelektual religius (klerus) bertindak secara politis karena hidup ini sesungguhnya politis. Hidup ini politis karena bertautan erat dengan ruang publik, pluralitas (orang lain) dan kebebasan.
Pernah dimuat di Tabloid FLORES POS Jakarta, 23-30 Januari 2008
Monday, December 17, 2007
Asmat; Bagai Cermin di Simpang Jalan
DONATUS Geriap, Simon Pari, Titus Job, dan Herman Bapan tampak semangat memahat kayu glondongan berukuran sekitar 45 cm dan berdiameter 20 cm. Dengan alat ukir sederhana mereka membentuk glondongan kayu itu menjadi ukiran-ukiran indah.
Donatus, Simon, Titus dan Herman adalah empat orang wai ipits (pengukir) yang meraih Juara I lomba ukir yang diselenggarakan dalam Pesta Budaya Asmat Ke-24 2007. Mereka menang untuk kategori ukiran patung besar, patung cerita, panel, dan tradisional. Mereka mendapat hadiah masing-masing Rp. 5 juta.
Puncak pesta budaya bertema Menjadikan Asmat Semakin Mantap Sebagai Situs Warisan Dunia ini digelar di Lapangan Yos Sudarso, Agats, Papua, Kamis-Rabu, 4-10/10. Sebanyak 177 pengukir dan 120 penari yang ikut ambil bagian dalam pacara puncak sebanyak tersebut.
Pesta budaya dimulai dengan seleksi ukiran di setiap distrik (kecamatan). Unsur-unsur yang dipertimbangkan dalam proses seleksi adalah daya kreatif yang tinggi dan perubahan atau kreasi baru. Panitia juga menetapkan distrik yang lolos seleksi wajib menyertakan kelompok penari yang akan dipentaskan pada perayaan puncak.
Distrik-distrik yang lolos seleksi adalah Distrik Sawa-Erma diwakili Kampung Komor, Distrik Agats diwakili Kampung Uwus, Distrik Pantai Kasuari diwakili Kampung Simsagar, Distrik Fayit diwakili Kampung Biopis, Distrik Atsj diwakili Kampung Yaosakor, Distrik Akat diwakili Kampung Warse. Distrik Suator yang diwakili Kampung Binam berhalangan hadir dalam acara puncak.
Tahun-tahun sebelumnya, penyelenggara pesta budaya Asmat adalah Keuskupan Agats-Asmat. Mulai tahun ini atau pesta budaya ke-24, penyelenggaranya adalah Pemerintah Kabupaten Agats. Dinas Pariwisata sebagai pelaksana. Meskipun demikian, susunan kepanitiaan tetap melibatkan beberapa orang staf keuskupan.
Menurut Ketua Panitia, Erick Sarkol tujuan pesta budaya kali ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya Asmat, menjalin persaudaraan antarrumpun Asmat dan antar semuasuku di Kabupaten Asmat, Membangkitkan kepercayaan diri seniman Asmat, mempertahankan Asmat sebagai salah satu situs warisan budaya dunia, dan menjadikan Asma sebagai daerah wisata popular di Papua.
Ada sesuatu yang baru, lanjut Erick, dalam pesta budaya kali ini. Selain lomba ukir dan pagelaran tari, juga ada pameran busana khas papua. Pameran busana ini dibawakan oleh gadis-gadis dan pemuda-pemuda Asmat. Perancang busana adalah Ursula Konrad dan Anemeri Katukdoan.
Bagi kelompok-kelompok tari yang belum pernah tampil pada pesta budaya tahun-tahun sebelumnya, pesta budaya kali ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk unjuk kebolehan. Misalnya kelompok penari dari Kampung Biopis Distrik Fayit. “Baru sekarang kami tampil. Kami senang,” kata Kristianus Abayua dari Kampung Biopis yang bersama teman-temannya mementaskan tari Moyang Biantur.
Pesta budaya Asmat merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Meskipun beberapa kali sempat terhenti, tetapi pada umumnya orang-orang Asmat berharap untuk terus diselenggarakan dan bersemangat ikut serta dalam pesta ini.
Keikutsertaan mereka diwujudkan dalam berbagai bentuk; hadir sebagai penonton dan memberi semangat kepada para pengukir dan penari, menjual hasil ukiran dan anyaman, atau sekedar hanya sebagai penonton murni alias tidak punya apa-apa untuk disuguhkan kepada khalayak yang hadir pada saat itu.
Jual karya
Para pengukir yang lukisannya lolos seleksi diikutsertakan dalam lelang ukiran selama pesta budaya. Berbagai ukiran seperti ukiran patung besar (patung orang), patung cerita (cerita-cerita rakyak yang diukir), panel (binatang atau tumbuh-tumbuhan yang diukir), dan tradisional (tifa, dayung, busur-panah, sampan) dilelang dalam kesempatan itu.
Harga dasar lelang ditentukan oleh panitia. Kisaran harga dasar adalah Rp. 500 ribu – Rp. 4 juta. Dari harga itu bergerak naik mencapai puluhan juta. Sebuah patung besar memperoleh harga lelang tertinggi lelang dalam festival kali ini, yakni sebesar Rp. 20.400.000.
Para pembeli ukiran adalah wisatawan luar negeri yang datang dengan dua kapal pesiar, para ekspatriat yang bekerja di PT Freeport Indonesia Mimika, wisatawan dalam negeri, dan para pejabat pemerintah daerah setempat.
Dari harga lelang itu dipotong 10 persen dan diserahkan kepada panitia. Potongan dikenakan pada ukiran yang dilelang dengan harga Rp. 1 juta ke atas. “Potongan itu untuk dana persiapan pesta budaya tahun depan. Juga untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dari peserta,” jelas Erick Sarkol.
Sedangkan bagi mereka yang ukirannya tidak lolos, dapat menjual ukirannya selama pesta budaya. Selain itu, mereka juga bisa menjual kerajinan-kerajinan tangan lain seperti, tikar dari kulit kayu, pisau dari tulang kuskus, topi dari kulit kuskus dan bulu burung kasuari, tas dari kulit kayu, dsb..
Buta nilai uang
Pesta budaya juga menjadi kesempatan bagi orang-orang Asmat untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar. Meskipun demikian, banyak orang Asmat terutama pengukir-pengukir yang mendapat uang berjumlah besar tidak tahu nilai uang yang mereka terima.
Kenyataan ini menjadi kesempatan bagi para pendatang dari luar Papua – yang berdagang di sana – untuk mengeruk keuntungan besar. Orang-orang Asmat sering ditipu saat belanja di warung atau kios. Misalnya, saat belanja uang kembalian ditukar dengan barang yang harganya lebih rendah dari nilai uang kembalian.
Kenyataan ini mendorong Bupati Agats Yuvensius A. Biakai pada penutupan pesta budaya menghimbau para pedagang agar tidak menipu orang-orang Asmat. Yuven juga menghimbau orang-orang Asmat mencari pendamping yang tahu nilai uang saat belanja. “Para pedagang supaya jangan tipu orang-orang Asmat. Bagi yang akan belanja kalau bisa pakai pendamping supaya jangan ditipu,” himbau Yuven melalui pengeras suara.
Selain tidak tahu nilai mata uang, uang yang diperoleh pun cepat habis. Uang yang diperoleh untuk membeli barang-barang seperti, genset, televisi, vcd player, kopi, gula, beras, mie instant, dan pakaian. “Mereka kalau punya uang, apa saja dibeli. Meskipun bahan bakar di sini mahal mereka beli genset dan barang elektronik lain. Minyak habis ya genset mati, barang elektronik lain dibiarkan begitu saja,” tambah Erick.
Ada juga orang Asmat yang menggunakan uang untuk membeli minum-minuman keras. Menurut keterangan beberapa guru di salah satu sekolah Katolik di Agats, minuman keras dipasok dari luar Papua. Setiap kali kapal penumpang milik PELNI mendarat, ada minuman keras berkrat-krat diturunkan dan dijual bebas. Mereka mabuk dan tidur diemperan kios atau pinggir jalan.
Pemerintah kabupaten juga berkesempatan mencari uang. Pesta budaya menjadi kesempatan investasi jangka pendek. Dana yang dihabiskan untuk pesta budaya tahun ini mencapai Rp. 1 miliar. Menurut Erick Sarkol, meskipun dana yang dikeluarkan besar, keuntungan yang diperoleh pun besar. “Keuntungan tahun lalu sekitar Rp. 300 juta. Tahun ini mencapai Rp. 500 juta,” kata kurator Museum Kemajuan Asmat ini.
Ada suara miring dari peserta terkait pesta budaya. Pesta budaya menjadi ajang menjual budaya Asmat. Sementara orang-orang Asmat tidak mendapat sesuatu yang berarti. “Mereka jual barang kita dengan harga murah. Kita tidak dapat apa-apa,” protes Paulus Fatok dari Kampung Simsagar Distrik Pantai Kasuari.
Ada juga orang Asmat menilai Gereja Katolik menjual budaya Asmat. Menanggapi hal ini, Erick Sarkol berujar tegas, “Kami tidak menjual budaya Asmat. Kami justru menjaga dan memelihara. Masyarakatlah yang menjual budaya mereka sendiri. Misalnya kalau ada turis asing yang datang mereka jual ukiran patung yang sudah diupacarakan. Padahal patung yang sudah diupacarakan tidak boleh dijual karena patung itu sudah digunakan untuk menghadirkan roh-roh leluhur. Selesai upacara, patung itu seharusnya dikuburkan,” tegasnya.
Pesta budaya seperti cermin di persimpangan jalan. Pada cermin itu orang-orang Asmat berusaha memelihara tradisi dan kearifannya. Pada cermin itu pula menatap kesempatan menjual budaya (ukiran, tarian, dan kerajinan tangan) untuk menghasilkan uang.
Peluang Pastoral Menanam Sagu
DIIRINGI tabuhan tifa dan teriakan, sekelompok penari Asmat dengan pakaian adat memasuki Katedral Agats-Asmat. Menyusul di belakang para penari, barisan misdinar, pasto dan Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM.
Pemandangan itu terlihat saat Misa pada hari Minggu, 7/10. Saat persembahan, para penari kembali mengiringi persembahan dengan tarian. Demikian pula saat para uskup, imam, dan misdinar meninggalkan altar, para penari kembali mengiringi dengan menari di depan menuju halaman gereja.
Diikutsertakannya budaya tari Asmat dalam liturgi Gereja Katolik di Agats-Asmat hanyalah salah satu model pastoral gereja yang kontekstual. Disebut hanya salah satu model karena budaya Asmat tidak semata-mata tarian atau karya seni lain. Budaya Asmat meliputi banyak hal antara lain cara berpikir, pola hidup, jenis makanan, mata pencaharian, pakaian dan sebagainya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Gereja Katolik Agats-Asmat atau Keuskupan Agats-Asmat, sudah menggereja secara kontekstual dengan berpijak pada kenyataan aspek-aspek budaya Asmat tersebut? Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito OFM mengakui, pastoral Gereja Katolik di tengah orang Asmat, belum mencakup semua aspek itu.
Dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) III Keuskupan Agats-Asmat yang berlangsung pada 25-30 September, kata Mgr Murwito, umat menyoroti reksa pastoral yang belum kontekstual dan petugas pastoral baik pastor, suster, dan tenaga pastoral awam yang berkerja sendiri. “Mungkin petugas pastoral hanya bekerja sama dengan beberapa orang saja. Pastoral yang dijalankan pun rupanya belum kontekstual. Hal itu disoroti dalam Muspas,” katanya.
Mgr Murwito sungguh menyadari, bahwa pastoral Gereja Katolik di tengah orang Asmat pada masa yang akan datang, tidak semata-mata menyertakan budaya tari dalam lituri, seni ukiran dapat menghiasai tiang-tiang penyanggah gedung dan tata ruang gereja, doa-doa dan ungkapan iman orang-orang Asmat. Tetapi lebih luas dari itu, “Raksa pastoral harus mencakup budaya, lingkungan hidup, alam pikiran orang-orang Asmat, dan kehidupan ekonomi, dan pendidikan,” tegasnya.
Hanya menonton
Pastor Hubert Thomas SVD yang hadir sebagai fasilitator dalam Muspas itu, kepada HIDUP mengatakan, orang-orang Asmat saat ini ibarat “kejantanan yang sudah disunat.” Artinya, orang-orang Asmat dulu memiliki semangat juang yang ditandai dengan suka berperang dan sanggup hidup di tengah alam yang sebagaian besar rawa-rawa.
Tetapi sekarang mereka sedang bingung dan loyo di tengah berbagai nilai yang bersumber dari budaya luar yang masuh ke Asmat. Di satu sisi mereka adalah orang-orang Asmat yang tangguh dan dengan segala kekayaan budayanya. Di sisi lain mereka adalah orang-orang yang disambangi berbagai nilai baru.
“Banyak orang Asmat berdiri di emperan kios-kios dan memandang ke dalam bukan hendak membeli sesuatu. Mereka hanya melihat. Mereka hanya penonton dari apa yang sering disebut sebagai perubahan,” doktor sosiologi ini memberi contoh sebagai gambaran keberadaan orang Asmat sekarang ini.
Budaya meramu adalah budaya khas orang Asmat. Mereka hidup dari alam, mengambil sesuatu dari alam sesuai kebutuhan. Sagu, ikan, kepiting (kraka), dan ulat sagu misalnya. Tanaman sumber karbohidrat dan hewan-hewan sumber protein itu diambil sesuai kebutuhan. Mengkonsumsi sagu dan ikan merupakan hal biasa.
Tetapi sekarang mulai ada pergeseran terutama generasi muda. Generasi muda sebagai penerus budaya Asmat di masa depan, lebih senang makan nasi dari beras, mie instant, minum ringan kaleng, sambil menyanyikan lagu-lagu pop. “Anak-anak sekarang lebih senang makan nasi dan mie instant daripada makan sagu,” kata staf Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agats-Asmat, Vallens Adji Sayekti.
Menata ekonomi
Budaya meramu pada puluhan tahun lalu merupakan hal yang biasa. Tetapi zaman sudah berubah. Budaya hidup meramu, dengan prinsip mengambil sesuai kebutuhan, kini berhadapan dengan budaya serba cepat (instan) dan mengutamakan rasa enak. Budaya instant dan rasa enak menuntut pengeluaran pendapatan ekonomi (uang).
Kalau dulu, persediaan makanan habis masih bisa diambil di hutan dan air. Kalau sekarang, persediaan makanan habis, uang tidak ada, apa yang diperbuat? Inilah tantangan dan peluang di depan mata untuk mengembangkan pastoral yang bertujuan menata kehidupan ekonomi orang-orang Asmat.
Menurut Adji – panggilan Vallens Adji Sayekti – Komisi PSE perlahan-lahan membina masyarakat Asmat untuk menabung. “Kita awali dengan beberapa ibu yang berjualan di pasar. Kita pantau, berkumpul dengan mereka dan memberi pembinaan-pembinaan. Meskipun jumlah orang yang terlibat masih sedikit tetapi mereka semangat,” jelas lulusan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.
Beras, mie instan, kompor minyak, speedboat, minuman kaleng, lagu pop, vcd player dan sebagainya adalah wujud nyata budaya luar yang masuk ke Asmat. Sagu, ikan, papeda, ubi, jew (rumah adat), wair (tungku api), sampan kayu, rakit, dan sebagainya adalah wujud nyata budaya Asmat.
Kalau budaya luar – khususnya beras, mie instan, minuman kaleng – saja bisa masuk ke Asmat, apakah budaya Asmat – khususnya sagu bola dan sagu lempeng, ubi – tidak bisa keluar dan merambah ke berbagai wilayah lain di luar Asmat? Atau untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Asmat. Ini ibarat mengembangkan pastoral menanam dan membudidayakan sagu dan potensi-potensi lokal yang lain. Tantangan dan peluang pastoral kontekstual ada di depan mata.
Untuk mewujudkan pastoral seperti itu, maka perlu memperhatikan kata-kata Mgr Aloysius Murwito OFM, “Pastoral yang kontekstual menuntut kerja sama semua pihak.”
Pendidikan di Asmat Tersendat-sendat

SEORANG siswa SMP YPPK St Yohanes Pemandi Agats-Asmat ditugaskan oleh guru bahasa Indonesia untuk melengkapi pribahasa “Tak ada rotan, …” Dengan sigap, anak itu mengatakan, “Tak ada rotan, cari di hutan!”
Jawaban yang betul adalah, “Tak ada rotan akar pun jadi.” Mendengar jawaban itu, sang guru hanya merekam dalam hati. Hari lain, masih dalam pelajaran yang sama, sang guru memberi tugas lagi untuk melengkapi pribahasa, “Ada gula ….” Siswa yang lain menjawab, “Ada gula, ada kopi, ada teh di rumah pak guru!” Jawaban yang benar adalah “Ada gula ada semut.” Sang guru pun tidak memarahi siswa. Belakangan, jawaban siswa itu menjadi cerita lucu di kalangan guru-guru muda di sekolah itu.
Itu merupakan salah satu cerita kecil untuk memotret lebih jauh kondisi pendidikan di Agats-Asmat. Kepala Sekolah SMP YPPK St Yohanes Pemandi, Sr Fransiska Pandong OSU mengatakan, pendidikan di Agats-Asmat tersendat-sendat.
Proses belajar-mengajar, lanjutnya sangat tidak efektif. Hal itu ditandai dengan guru-guru yang sering tidak hadir di kelas saat proses pembelajaran. “Kalau guru tidak hadir selama proses belajar-mengajar di kelas, untuk apa pendidikan. Sekolah apa itu? Guru-guru sering tidak disiplin,” ungkapnya.
Persoalan lain yang muncul adalah komunikasi yang kurang baik antara sekolah, para orang tua dan masyarkat. Komunikasi yang kurang baik ini, mempersulit proses pendampingan terhadap peserta didik. “Orang tua datang menyerahkan anaknya di sekolah dan dilepas begitu saja. Anak-anak pun tinggal berkelompok di bivak-bivak (pondok) tanpa pendampingan. Setelah mengantar mereka ke sini, orang tua kembali ke kampung. Sering kali anak-anak tidak masuk sekolah karena tidak punya makanan. Daripada mereka ke sekolah dalam keadaan lapar, lebih baik mereka tidur di bivak. Itu alasan mereka,” kisahnya.
Sering kali, lanjut Sr Siska, orang tua siswa datang mengamuk di sekolah kalau anaknya tidak naik kelas. Padahal memang tidak memenuhi syarat untuk naik kelas. “Orang tua sering tidak peduli dengan anak-anak mereka,” tegasnya.
Menurutnya, kerja sama semua pihak harus dibangun. Karena dengan demikian dapat memajukan pendidikan di Asmat. Bila kerja sama sudah terbangun dan berlangsung dengan baik, maka pendidikan nilai-nilai – kekatolikan, persaudaraan, kritis terhadap lingkungan, kepekaan lingkungan hidup – dapat berlangsung dengan baik. Pendidikan yang baik bagi orang-orang Asmat, memungkinkan mereka hidup lebih baik di masa depan.
Kabupaten Asmat; Bagai Bayi Belajar Bediri

KABUPATEN Asmat baru seumur jagung. Kabupaten ini baru berdiri tahun 2002. Luas wilayah kabupaten kurang lebih 29.658 km2. Per tahun 2000, jumlah penduduk penduduk sekitar 59.307 jiwa.
Sebagai sebuah daerah pemerintahan yang baru, Kabupaten Asmat ibarat anak yang baru belajar berdiri. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten (pemkab) agar bisa berjalan tegak, kuat, dan mandiri.
Pekerjaan berat yang harus dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, menurut Bupati Asmat Yuvensius A. Biakai, selain membenahi sekolah-sekolah dasar dan menengah yang sudah ada, Pemkab akan mendirikan sekolah menengah atas unggulan di Distrik Sawa-Erma.
Pendidikan kewirausahaan
Anak-anak yang akan sekolah di sana, kata Yuvensius, adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan intelektual lebih. Anak-anak akan tinggal di asrama. Selain kurikulum nasional yang dipakai, akan dikembangkan pula kurikulum lokal. “Anak-anak akan dididik dalam hal seni ukir Asmat, tari, dan nilai-nilai budaya lokal,” kata Ketua Lembaga Masyarakat Adat Asmat ini.
Yuvensius juga mengatakan, akan dididik mengenai cara memasarkan ukiran atau karya-karya seni Asmal yang lain. “Kita mau menumbuhkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) agar kelak mereka bisa wiraswasta di bidang budaya. Kita ingin mengembangkan budaya sebagai sumber ekonomi seperti Bali,” jelasnya.
Peningkatan mutu pendidikan, diakui Yuvensius, sebagai salah satu strategi membentuk orang-orang Asmat agar mampu bersikap kritis dan selektif terhadap segala arus budaya lain yang masuk ke Asmat. “Kita tidak mau Asmat ini punah. Kita mau di tanah lumpur ini ada kemajuan tetapi tetap menjadi orang Asmat dengan jati dirinya yang asli.”
Untuk meningkatkan mutu sekolah dan mewujudkan sekolah unggulan ini, Pemkab akan bekerja sama dengan Keuskupan Agats-Asmat. Bentuk kerja samanya melalui subsidi biaya dan menyiapkan tenaga pengajar berstatus penagawai negeri sipil.
Kebiasaan menabung
Orang-orang Asmat boleh dikatakan mudah mendapat uang. Mereka menjual hasil alam, seperti ikan, kepiting, pohon gaharu, dan sebagainya. Sayang, pohon gaharu yang harganya sangat mahal nyaris punah.
Pemkab juga membantu masyarakat dengan membagi jaring (jala) dan speedboat untuk menangkap ikan. Subsidi pemerintah ini dimiliki secara kelompok.
Yuvensius mengatakan, masyarakat terus-menerus di dorong untuk menabung. Saat pesta budaya berlangsung misalnya. Yuvensius berulang-ulang menghimbau masyarakat untuk menabung.
Penyakit yang sering menyerang masyarakat adalah gangguan pernapasan, malaria, dan kaskadu (koreng). Di beberapa distrik (kecamatan) ada puskesmas. Tetapi pelayanan kesehatan belum maksimal karena kekurangan tenaga medis, sarana medis, dan transportasi yang sulit.
Kesulitan mendapat tenaga medis yang mau tinggal di pedalaman untuk melayani masyarakat, merupakan satu persoalan tersendiri. Untuk itu Pemkab harus bekerja keras dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Persoalan lain yang dihadapi Pemkab adalah arus pendatang dari luar Asmat yang terus meningkat. Alasan para pendatang ke Asmat adalah berdagang. Ada kecenderungan mereka ke Asmat hanya untuk mencari uang. Kurang ada niat untuk membangun Asmat. “Kami berharap para pendatang membangun Asmat bukan merusak orang-orang Asmat dengan minuman keras,” harap Kepala Seksi Bina TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat Paulus Warbopan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
